top of page

Checking In: Innit Lombok, Istana Pasir Penuh Ketenangan

Jauh dari keramaian Sengigi atau Mataram, Teluk Ekas di Lombok Timur seringkali tak terdeteksi dari ‘radar liburan.’ Namun, selamat datang di Innit, sebuah resor di pinggir pantai Teluk Ekas yang tenang dan indah dan berpasir putih, the real definition of hidden gem yang indah dan menenangkan. Hanya ada, saya, pasir putih, debur ombak, dan daun pohon kelapa yang melambai tenang tertiup angin sepoi.


Meski harus menempuh perjalanan udara dari Jakarta ke Lombok, dilanjutkan dengan perjalanan darat menggunakan mobil ke pelabuhan, kemudian menggunakan berlayar dengan boat sampai ke depan resor, ini benar-benar diantar sampai ke depan resor dengan boatnya, perjalanan ini menyenangkan. Tanpa macet dan polusi.


Hanya dalam beberapa langkah turun dari boat, saya disambut dengan deretan 7 beach house di pinggir pantai.


Beach house yang saya tempati berada di nomor 4, di area tengah. Tak terlalu jauh dari tempat boat ini melemparkan jangkar. Saya memutuskan untuk bertelanjang kaki turun dari boat menuju ke beach house. Untuk ini, ada 2 alasan untuk ‘nyeker’ di pantai ini. Pertama, tentunya karena tak ada perasaan yang lebih menyenangkan daripada merasakan pasir putih di antara jari kaki. Kedua, saya, sandal jepit, dan pantai bukan sahabat karib. Tak terhitung berapa kali, sandal saya terlepas dan hanyut terbawa ombak saat turun dari boat.


Istana Pasir ‘Lumbung’ Modern

Jangan bayangkan resor ini akan memiliki gedung tinggi bertingkat dengan lobi luas dan aneka pilihan restoran. Sampai saat ini, Innit hanya memiliki 7 beach house dengan 2 kamar tidur dan satu restoran utama mereka, Anakampung, dan satu kolam renang di area tengah dan menghadap ke pantai.


Namun, justru inilah yang membuat Innit terasa lebih spesial. Suasananya tenang, nyaman, sehingga semuanya terasa lebih private. Tamu-tamu yang datang, memang didominasi oleh tamu internasional dari Amerika, Eropa, dan lainnya. Sebagian besar dari mereka hanya ingin menikmati liburan dengan bersantai di tepi pantai, membaca buku sembari berjemur di pinggir kolam, atau bahkan hanya duduk santai di ruang tamu vila yang juga menyatu dengan pantai.


Desain beach house-nya memang berbeda dari yang lain. Kedua kamar berada di lantai atas yang ‘menanjak’ dengan area lantai miring bukan tangga sehingga lebih nyaman untuk naik ke lantai atas. Dua kamar dengan ukuran yang cukup besar memiliki dua pemandangan yang berbeda, beach view dan garden view. Tipe Beach view memiliki balkon berlapis dengan kursi kecil untuk bersantai sambal menikmati angin sepoi yang bertiup dari balik kayu ulin fasad.


Area yang menarik adalah ruang tamunya. Ruang tamu ini berada di lantai bawah dan menyatu dengan island kitchen yang luas. Uniknya, ruangan ini ‘berselimut’ dengan pasir pantai di area luar beach house. Ini tak hanya memberi kesan luas tapi juga definisi sebenarnya dari bersantai di rumah pantai. Rasakan keseruannya memasak atau bercengkrama dengan keluarga dengan multisensory pasir pantai, seperti layaknya istana pasir.


Andra Matin, Gregorius Supie Yolodi, dan Maria Rosantina adalah orang-orang di balik desain beach house di Innit. Desain rumah yang menyatu dengan alam, minimalis namun fungsional menjadi satu benang merah dari desain-desain mereka.




Fishing Village

Anakampung menjadi satu-satunya restoran di beach house ini. Meski demikian, ada beragam makanan yang bisa jadi pilihan. dari hidangan western sampai lokal.


Untuk makan malam, jangan lewatkan untuk menikmati hangatnya suasana malam penuh bintang dengan aneka seafood. Seafood? Tentu saja ini tak boleh dilewatkan. Bahkan Matthew Angga, Resort Manager sekaligus Executive Chef Innit, mengajak kami untuk menangkap seafood kami sendiri untuk makan malam.


“Nelayan kami info, katanya lagi banyak gurita. Kalau mau coba tangkap gurita, besok bisa pergi melaut pagi,” kata Angga.


Dengan semangat, keesokan harinya kami pergi melaut dan mencoba mencari gurita sampai nyaris ke luar teluk. Sayang, kami gagal mendapatkannya. Angga langsung menghibur dan mengajak kami ke desa nelayan untuk menangkap lobster.


Dengan perahu, yang menjadi salah satu transportasi utama di sana, kami berlayar menuju tengah laut kampung nelayan yang menjadi pemasok seafood utama di Innit. Dengan hati-hati saya mulai meniti bilah-bilah bambu untuk melihat lobster dari dekat. Hap! dengan jaring penangkap, saya berhasil mendapat 1 lobster besar sambil berusaha menyeimbangkan tubuh.


Lobster ini akan dibakar di api unggun dan disantap saat makan malam. Tapi sebelumnya, untuk menghabiskan siang, kami snorkeling di pink beach yang jernih dan ikan-ikan yang dengan mudahnya ‘dipancing’ dengan makanan.


Puas bermain dan berenang, kami kembali ke resor untuk berenang di infinity pool-nya. Di pinggiran kolam, Anda juga bisa bersantai sambil membaca buku atau pun yoga. Namun saya memilih berenang dan berjemur sambil minum segelas air kelapa sembari menunggu malam tiba dan api unggun mulai dinyalakan.



Comments


© 2025 Saggirio Communications. All Right Reserved.

bottom of page